Minggu, 08 Maret 2009

Istriku menulis


Mungkin terprovokasi karena sering melihat saya dan Ratih sering beradu tulisan dalam memposting blog,diam-diam istri mengamati dan mencoba mengikuti demi “menikmati” membuat suatu tulisan.
Dengan keberanian yang begitu full speed, dia mencoba membuat suatu tulisan dengan bahasa yang sederhana. Kemampuan mengolah dan memilih kata begitu lugunya. Istriku mencoba menulis dengan mulai dari sesuatu yang terlintas dalam pemikirannya tanpa menghiraukan jadinya seperti apa.Begitu polos......tapi dengan kepolosan ada baiknya kita nikmati saja tak perlu koreksi maupun proses editing.Marilah kita nikmati seperti semilir hembusan angin di bawah pepohonan di pinggir pantai.Ini tulisannya... dia beri judul “TERKENANG”.
Aku,sosok seorang ibu yang mempunyai tiga orang anak.Selalu bahagia bersama suamiku dan ketiga buah hatiku.Sebenarnya aku tidaklah sepandai penulis-penulis yang handal dalam mencurahkan pikiran dan isi hatiku bahkan kadang-kadang titik koma dalam bahasa Indonesiapun aku masih suka bertanya kepada putriku satu-satunya.Namun semua ini aku paksakan karena aku selalu “iri” melihat bapak dan putriku selalu menulis apa yang terlintas di pikirannya ke dalam blog,mereka kelihatannya sangat mudah dan mengasyikkan.Kucoba menorehkan tinta ke dalam kertas putih.Aku mulai menulis apa yang terlintas di benakku.Wah...ternyata sulit dan sangat sulit.Banyak coretan coretan yang kuanggap masih salah tapi aku tidak tahu apakah kalimat-kalimat yang kutulis memang salah. Terkenang aku selagi duduk dibangku SMP,pas pelajaran bahasa Indonesia kami disuruh mengarang yang temanya sudah ditentukan.Betapa sulitnya aku menorehkan tinta itu untuk menulis yang aku bisa,karena aku kurang suka mengarang karena pada waktu itu aku ndak hobby baca,otomatis mau memulai tulisan sangat sulit.Apa yang aku mau ndak dapat,karena pada waktu SMP dulu aku suka membolos pas jam pelajaran Bahasa Indonesia.Terkenang lagi pada saat itu ada teman-temanku yang membeda-bedakan teman,mereka hanya senang dengan orang yang THE HAVE(orang kaya) istilah pada waktu itu.Jadi aku agak minder sebenarnya. Namun semua itu hanya tinggal kenangan ,aku selalu mengajarkan kepada ketiga buah hatiku,jangan memilih-milih teman.Kerjakan apa yang kamu bisa,jadi dirimu sendiri,perbanyak teman jangan perbanyak musuh. Semoga kenangan yang aku torehkan pada saat aku belajar menulis sangat berkesan di hati pembaca.
Itulah sepenggal tulisan istriku dalam memulai mencoba “belajar” untuk menulis,demikian polosnya.Kadangkala dalam kehidupan kepolosan dan keluguan menjadi barang yang aneh dan langka.Tetapi dari kepolosan akan ada suatu benang merah yang apabila kita jeli melihat,terlihat ada suatu value yang ingin disampaikannya kepada semua orang untuk berbagi cerita dan pengalaman walaupun dalam bahasa yang sangat sederhana.
Tak perlu kita menyesal tidak menjadi seorang penulis yang handal ,tapi kamu bisa bersyukur bisa melahirkan seorang anak yang berbakat menjadi penulis hebat.Itu lah kata-kata yang sering saya ucapkan untuk memacunya terus menulis.
Yang paling penting keberanian memulai menulis sudah merupakan anugrah dari Tuhan.
Maju terus...ayo teruskan keberanian itu,cepat atau lambat kamu akan semakin dahsyat.....

Kamis, 05 Maret 2009

Sulitnya MeNcOnTRenG



Tidak berapa lagi kita bakalan melaksanakan hak demokrasi untuk memilih wakil kita di legislatif. Genderang perang Baliho telah ditaburkan di tempat-tempat strategis seperti persimpangan jalan ,dipojok Gang, yah.. kecuali di atas kuburan. Ada yang ukuran besar ada yang ukuran kecil dan adapula yang ukuran seadanya, alias pahe (paket hemat). Semua dengan tujuan untuk menarik simpatik, “Pilihlah aku.....aku adalah wakil kalian siap memgemban amanah untuk masa depan.” Kita pun bingung... masa depan siapa? Emangnya semua bisa dengan mudah seperti membalik telapak tangan, seperti situasi kondisi saat ini? Pengangguran banyak, lapangan kerja berkurang, perekonomian seperti selokan mampet, banyak kotoran.
Pemilu merupakan sarana ,sebagai ajang pemandu pencari bakat, bakat pemimpin dan wakil rakyat. Sebagai salah satu dari rakyat yang mempunyai hak pilih, situasi ini kembali membuat pusing tujuh keliling.
Kebetulan pemilu kali ini, banyak teman yang menjadi caleg. Semuanya teman dekat, semuanya baik, semuanya mempunyai kompeten, semuanya minta dipilih padahal one man one vote.
Saya jadi teringat salah satu cerita pendek yang di tulis pengarang Amerika Serikat, Pearl Buck, dengan judul ”To My Daughters with Love” dengan tulisan.....
once the what is decided,the how always We must not make the how an excuse for not facing and accepting the What.....
Memilih dengan pilihan yang cocok untuk bisa mewakili kita di DPR propinsi memang harus segera di putuskan. Masalahnya kita harus memilih salah satunya.
Pasalnya semua calon yang ada kebetulan semua teman dekat. Ada Baskoro Efendy dari PPD,Koko Sudharyanto Partai Patriot, M. Rifal Pakar Pangan, Syafrudin Nasution dari partai Hanura, dan Dedy Alfian dari PAN. Mereka punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.Namanya juga manusia.
Membuat suatu keputusan memang gampang gampang susah, apalagi harus ada pilihan. Bila kualitas dari dua, tiga, empat dan lima pilihan berbeda jauh, pengambilan keputusan akan lebih mudah. Kemungkinan salah pilih amatlah kecil. Namun, bila kualitas dari pilihan itu nyaris sama, penentuannya menjadi sulit. Lantaran kualitas dari pilihan hampir sama, keputusan tidak akan terpengaruh oleh perbedaan kualitas pilihan tersebut. Nah.... pasti ada faktor faktor lain yang bisa kita ambil sebagai dasar untuk menentukan pilihan.Dan mudah-mudahan saya tidak keliru dalam menentukan pilihan di hari Kamis 9 April 2009.
Yang pasti saya tidak akan GolPut, takut...takut haram! Ada-ada saja fatwanya Ulama.

Minggu, 01 Maret 2009

KELAPA MUDA



Hampir tiap minggu saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati air kelapa muda. Selain menyegarkan kerongkongan, air kelapa muda katanya bisa membersihkan Ginjal. Bagi kaum wanita khususnya, pada masa kehamilan banyak yang mengkonsumsi air kelapa muda karena bisa membuat kulit bayi yang di kandungnya menjadi bersih. Urusan kebenaran dari statement diatas bukan menjadi urusan saya, karena semuanya saya dapatkan dari cerita dari mulut kemulut dan belum pernah ada penelitiannya.
Tapi cerita tersebut sering saya dengar dari penikmat air kelapa muda yang lain ketika sedang menikmati air kelapa muda di pinggir jalan. Biasanya penjual kelapa muda tempat saya sering singgah terletak di pinggiran jalan Merdeka timur di bawah pohon sebagai tempat perlindungan dari terik matahari. Tempat penjual air kelapa itu sangat sederhana, terdiri sebuah gerobak dengan beberapa kursi plastik dan sebuah meja tempat menjual aneka panganan lain seperti kroket, kue sus, tart susu,risoles,bakwan,kue lapis,bolu,cucur, donat, cwa kwee sengkuang,keladi, kucai,dan nasi kuning.
Penjual air kelapa muda di pinggir jalan yang sederhana itu menjadi begitu menarik untuk selalu ramai di kunjungi pembeli.
Karena si penjual yang sepertinya seluruh keluarga di libatkan mulai dari bapak ibu sampai anak keponakan menerapkan management penjualan yang dapat di bilang cukup lumayan. Untuk pemecah batu esnya saja mereka menggunakan mesin pemecah, sedangkan ditempat lain yang pernah saya lihat masih menggunakan bekas ban dalam mobil. Es dimasukkan ke ban kemudian di pukul berkali kali sehingga menjadi butiran es yang berukuran kecil.
Kemudian, mereka melayani pembeli seperti melayani anggota keluarganya saja, semua pembeli baik langganan maupun bukan langganan terkesan akrab dengan penjual. Penjualnya familiar dengan semua pembeli. Kita sering berbicara akrab dan saling bercanda.
Pernah satu ketika saya mampir untuk minum air kelapa mungkin karena saat itu persedian kelapanya menipis, saya hanya dapat airnya saja tanpa kelapanya sayapun protes ke penjualnya, ”ci,kok air kelapanya ndak ada isinya,harganya beda dong dikorting ya?”.Si Penjual bilang “hampang lah pak” bicara dengan logat cinanya.Saya bilangnya “maksudnya gimana Ci?”
“gini pak ,bapak nanti sinik agik,nanti aku kasih isi kelapa dua kali lipat”, gurau si Amoy penjual kelapa.
Memang janjinya sering di tepati walau saya jarang mengingatkan ke amoy tadi.
Ada juga satu waktu pulang dari menjemput anak pulang sekolah kami mampir untuk minum dan makan kue cha kwee yang memang disukai si Ratih. Kue dimakan ,tapi karena keasyikan sampe lupa berapa jumlah kue yang telah di makan sehingga pada saat dikalkulasi untuk membayar menjadi kesulitan. Saya pun bertanya ,”apa kau tak lugi keh? Nanti olang makan lima die bilang tige”,biase kitepun ikut ngomong dengan logat kecinean juga.Die Jawab”telselah dielah pak,die yang beldose”.
Dengan kalimat jawaban seperti itu saya langsung menerawang jauh ke masa waktu zamannya masih sekolah dulu ketika waktu masih nakal-nakalnya,berapa banyak korban yang pernah kita buat. Ada tukang bakso lewat di depan sekolah kita panggil saat bel sekolah hampir mau masuk dan begitu bakso barusan selesai dimakan bel berbunyi kita langsung lari saja tanpa bayar.
Jangan tanyakan lagi, si penjual langsung lapor ke kepala sekolah,tapi itu memang sudah kami perhitungkan pasti kepala sekolah nyariin dengan petunjuk dari si penjual bakso tadi dari kelas ke kelas. Hasilnya tentu saja nihil! Karena kami sembunyi di WC. Begitu yang di cari tak diketemukan, baru kita keluar dari WC.Pokoknya pada masa sekolah apalagi STM,nakalnya bukan main.Termasuk juga soal makan kue lima bilang tiga. Takkan bisa disebutkan dengan bilangan kecuali,sering.
Ada juga kejadian kami sering makan gado-gado si mbah yang memang enak tapi tak punya duit, kita nekat aja pesan.Kemudian di saat pembeli ramai untuk di buatkan gado-gado si mbah sibuk mengulek kacang di saat itulah kami pergi meninggalkan warung tanpa bayar.Dan yang paling mengherankan si mbah, tidak pernah tahu atau mungkin pura – pura tak tahu, gado gadonya tetap laku,simbah tak pernah bangkrut dan tetap sehat(awet tua mbah..ha..ha.).
Tapi untuk urusan dengan si mbah sudah pernah kami selesaikan beberapa tahun kemudian dengan cara,saat kami sudah bisa cari uang sendiri dan punya uang, kami bernostalgia makan gado-gado si mbah lagi, pada saat membayar, kami bayar lebih. Si mbah kaget kok uangnya lebih banyak .Kita pun bilang “sekalian untuk bayar utang mbah!”
“Utang yang mana? Kalian kan ndak ada utang sama mbah,”si Mbah menjawab dengan wajah penuh keheranan.
“Dulu,waktu masih sekolah ,makan sering tak bayar mbah,” kami bilang sambil tertawa-tawa.
Si Mbah sebenarnya menolak dibayar, tapi kami memaksanya dan akhirnya mbah pun mau menerima juga.
Untuk kejadian diatas semua pada saat ini saya mohon ampun dari ALLAH atas kenakalan kami yang dulu.Untung nakalnya sudah ditinggalkan nggak kebawa sampai sekarang.
Memang benar suasana dalam berinteraksi antara penjual dan pembeli dibuat seperti keluarga, akan mengundang pelanggan untuk berkunjung kembali. Karena yang kita jual bukan hanya barang tetapi suasanapun layak juga untuk dijual.
Amoy....amoy.!!!!!!!!

Rabu, 25 Februari 2009

U ARE MY HERO.....


Ketika sedang menunggu lampu merah di persimpangan jalan,mata telihat spanduk dari salah satu caleg” I love You teachers ,You are my Hero”.Kebetulan yang memasang spanduk tersebut adalah teman dekat dan baik , mencoba menjadi caleg. Mohon maaf namanya tidak dituliskan di blog ini.
Ternyata guru mendapat tempat tersendiri bagi teman tadi sehingga perlunya spanduk tersebut dipasang dan hanya satu-satunya spanduk yang mengusung kecintaannya pada profesi guru.
Atau dia mengerti benar potensi yang ada ,dari jumlah guru memang cukup banyak dan mesti di garap.
Tanpa merendahkan profesi guru memang dalam setiap kesempatan pilkada maupun pemilu selalu menjadi objek yang harus diperjuangkan.Tetapi begitu usainya perhelatan nasib guru sepertinya dilupakan ibaratnya diombang ambing bagai sebuah barang dagangan oleh partai politik.
Padahal pendidikan merupakan hak rakyat.Bila pendidikan gagal dinikmati rakyat berarti pemerintah telah gagal mengaplikasikan amanat konstitusi.Maju mundurnya pendidikan selalu ditentukan oleh besarnya pengabdian para guru,mereka motor penggerak pendidikan ditangannya generasi penerus anak bangsa dipertaruhkan.
Kesejahteraan guru merupakan syarat mutlak agar mereka bisa melaksanakan tugasnya penuh dengan dedikasi.
Tanpa mereka ,anak bangsa terutama kita tidak mungkin bisa seperti ini.
Sungguh,dedikasi para guru mulai dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi selalu memberi kesan tersendiri.Mengisi lembar lembar kehidupan yang tak mungkin bisa Ku lupakan.
Mulai dari Bu Nunung, Guru taman kanak-kanak yang mengajarkan saya sehingga bisa menyanyikan lagu “hari sudah siang, ibu guru pulang sekolah,kawan-kawanku selamat siang,selamat siang ,besok kami kan datang”.Juga lagu-lagu lainnya seperti balonku,topi saya bundar serta bersajak walaupun dengan cara menghafal ,karena waktu itu belum bisa membaca.
Kemudian di waktu Sekolah Dasar , dua orang guru mempunyai kesan mendalam ada pak John de Gautte mengajarkan kami untuk bisa memimpin karena setiap pelajaran olah raga kami disuruh bergantian untuk memimpin senam gerak badan bagi teman teman yang lain. Pak Edmundus Jutin guru kelas yang tegas dan bijak mengajarkan menulis rapi dengan buku garis tiganya,pelajaran berhitung yang pada waktu itu kita hanya mengenal hitungan pecahan sen,kelip,ketip,setali,rupiah,dan pada waktu kelas dua kami wajib menghafal perkalian,banyaknya hari pada masing –masing bulan dengan cara tangan di kepal dan dilihat dari tonjolan kepalan jari tangan.Apabila tonjolan tinggi berarti bulan itu berjumlah harinya 31 hari dan yang rendah 30 hari kecuali februarinya.
Masuk ke SMP pun ,ada satu guru yang sulit dilupakan karena saya paling sering kena hukuman namanya ibu Sri Mawarti.Beliau mengajar ilmu ukur karena pelajaran itu merupakan pelajaran yang sulit bagi saya.Untuk sekedar membuktikan bahwa dua segitiga sama dan sebangun, sulit bukan main termasuk perbandingan segitiganya.Pada waktu SMP pelajaran Matematika masih terpisah antara Aljabar dan Ilmu ukur.
Kemudian ada satu guru yang setiap pergi mengajar masih menggunakan sepeda namanya pak Surya ,Beliau mengajar Sejarah Indonesia dan sejarah Dunia tanpa membawa buku.Setiap masuk kelas beliau bisa mengajar seperti bercerita menyebutkan waktu kejadian dan pelaku sejarah termasuk lahir dan wafatnya secara tepat,tanpa buku sekali lagi tanpa buku.Sungguh mengagumkan.
Di SLTA saya melanjutkan ke STM negeri I,disanapun banyak guru yang berkesan diantaranya pak Ken Batiusna dan Pak Muin yang mengajarkan saya menjadi drafter dan menghitung Rencana Anggaran Biaya.Modal saya untuk bisa terjun ke dunia kerja.
Di STM ini pula kami mulai sholat Jumat secara rutin karena pada pelajaran agama Islam kami semua murid diwajibkan untuk membuat buku Agenda sholat yang berisi Mesjid tempat sholat,Muazin,Imam Sholat,Judul khotbah serta ringkasan isi khotbah berikut nama dan tandatangan khatibnya.Buku itu di kumpulkan setiap bulannya untuk diberi nilai.Termasuk mewajibkan setiap siswa bisa melaksanakan sholat jenazah.Kami semua di uji satu persatu kedepan untuk melaksanakan sholat jenazah dengan bacaannya di perkeras.Sang Guru tersebut sekarang masih sehat wal afiat namun sudah pensiun namanya Bapak Hasan Ghafar.
Selesainya sekolah di STM ,ternyata saya bisa diterima di fakultas Teknik UNTAN,tetapi tidak pada tempatnya saya untuk bercerita banyak tentang kejadian di bangku kuliah.Kecuali di perguruan tinggi itulah saya sukses memperdalam ilmu “pacar memacar” dan lulus mendapat pendamping hidup.Yang tidak sangka dan di duga ternyata seorang Guru pula.
Kemajuan dari suatu Bangsa terletak bagaimana Bangsa itu bisa membangun Sumber Daya Manusianya,Membangun Sumber Daya Manusia harus dimulai dari menghargai dedikasi dari para Guru.
U ARE MY HERO..........

Minggu, 22 Februari 2009

C E R A I


Situasi perpolitikkan di tanah air semakin hari semakin menghangat ,manuver para kandidat calon presiden masuk babak pembukaan, bidak-bidak catur sudah mulai digerakan untuk mencari posisi-posisinya.Pembicaraannya sudah melanda hampir disemua lini warung kopi.Semua lapisan masyarakat hangat membicarakan dengan versi dan menurut analisa-analisanya masing-masing mulai dari tingkat tukang parkir sampai ke dunia akademikpun ada disana.Analisa bisa berdasarkan teory akademik maupun kelas amatiran.Apapun levelnya semua bisa menambah wacana keilmu pengetahuan setiap orang.Mendengarkan perbincangan mengenai perkembangan pencalonan presiden dari sudut pandang masyarakat warung kopi kelas 2000 perak cukup mengasyikkan juga.Banyak hal yang kadang kita mendapatkan berita yang mengejutkan diluar perkiraan .Memang benar juga ,kita sering terpaku dari berita yang dirilis koran maupun stasiun televisi berdasarkan narasumber pengamat si A,si B yang kadang jauh meleset dan sering tak ada malunya apabila pengamatannya salah besar,dan anehnya merekapun masing sering dimintakan pendapatnya.
Daripada kita disajikan pengamatan yang saya rasa biasa-biasa saja lebih baik kita mendengar pengamat amatir kelas warung kopi yang kalau hasilnya salah ,kita bisa maklumi namanya saja pengamat kelas kopi pancong.
Salah satu perbincangan yang cukup menarik yang pernah saya dengar tentang kemungkinan akan bercerainya pasangan SBY-JK,juga menjadi hotnews warung kopi disetiap sudut kota pontianak .Menjadi begitu menarik karena begitu menguatnya tarikan dari dalam partai GOLKAR agar JK berani mengajukan diri menjadi calon Presiden.Sedemikian kuatnya tarikan internal dari partai GOLKAR sampai-sampai 33 DPD mendesak JK dalam rapat konsultasi nasional partai.Sehingga sudah menjadi ketentuan apabila semua DPD menginginkan makanya otomatis DPP tidak dapat berbuat apa-apa.
Tetapi yang namanya dunia politik tidak ada yang namanya harga bandrol semua selalu dipasang pada posisi ada nilai tawarnya,maka dengan tingkat kejelian yang tinggi sang ketua DPP menjawab akan melakukan sholat istikarah dulu.Maka harga bandrolnya masih dalam koridor nilai tawar, yang tentunya setiap saat akan bisa berubah kembali.
Memang harus diakui juga saat ini calon pasangan Presiden dan Wapres dari partai manapun yang akan keder(ngeper) juga jika SBY-JK masih tetap bersatu.Dwi tunggal yang selalu saling mengisi dan menguasai permasalahan masing-masing tugasnya,sehingga semua persoalan bisa diselesaikan berkat kekompakannya.
Jadi tidak ada pilihan lain yang nama politik tentunya segala strategi harus dijalankan.Maka diupayakan jurus awal berusaha untuk memisahkan SBY-JK terlebih dulu.Apabila SBY dan JK maju sendiri sendiri, maka calon kandidat lain menjadi punya peluang sama besar dibanding dengan SBY-JK maju bersama kembali.Sebagai perumpamaan pasangan ganda bulutangkis kita Rexi dan Ricky subagja,mana yang bertugas mengatur serangan dan mana yang bagian menyemes mereka bisa berbagi tugas dengan baik dan hasilnya mendali emas olympiade.
Begitu DPD GOLKAR mengeluarkan pernyataan JK maju Capres langsung disambut Sri Sultan dengan pernyataan siap meladeni untuk bertarung dalam pemilu presiden mendatang.Walaupun hitung-hitungan kalau JK maju menjadi Capres akan ada resikonya, dan melihat sepak terjang selama ini JK merupakan type pemimipin yang berani mengambil resiko karena latar belakang beliau yang pengusaha sudah terbiasa mengambil resiko.Selain itu beliau walau hanya dengan peran wapres saja bisa dengan berani dan cerdas dalam menyikapi persoalan bangsa sehingga SBY banyak terbantu dalam menyelesaikan masalah bangsa.Bisa –bisa saja pilihan ini memang benar akan diwujudkannya.Sementara kubu SBY dengan bijak menyikapi ini dengan tetap menciptakan satu ruangan mediasi dalam harga tawar ,bukan putus harga.
Yang namanya politik memang tidak ada yang abadi tetapi politik masih bisa dihitung-hitung berdasarkan pengamatan selama beberapa kali pemilihan Presiden di Indonesia.Belum pernah sekalipun ada presiden yang bukan orang Jawa,kecuali Habibie itupun merupakan akibat dari proses terjadinya pergantian dari kekuasaan pasca reformasi bukan dari pemilu.
Kondisi pilpres yang one man one vote,dan realita jumlah penduduk di pulau Jawa merupakan mayoritas bisa jadi hitungan, ini menjadikan acuan oleh pengamat tingkat warung kopi,untuk menyatakan sangat sulit capres yang bukan Jawa untuk bisa terpilih.
Tetapi ada sebagian menyatakan ini hanya manuver GOLKAR untuk minta jatah lebih dalam penentuan kabinet apabila memenangi Pilpres,atau untuk mendongkrak suara pemilu legislatif dengan menggunakan popularitas JK,berarti manuver DPD-DPD itu demi untuk kepentingan para calegnya dalam pemilu legislatif 9 April 2009 dan sah-sah saja ,namanya stimulus politik dari JK untuk para Calegnya.
Memang kata cerai mudah diucapkan tapi perlu waktu lama untuk bisa diwujudkan dan mesti dipikirkan berjutakali untuk sebuah perkawinan.
Maka simaklah sepotong bait lagu dari ONCE “Aku Mau”
Kau boleh acuhkan diriku..... Dan menganggap aku tak ada..... Tapi tak merubah perasaanku Kepadamu....... Kuyakin pasti suatu saat Semua kan terjadi.... Kau kan mencintaiku Dan tak pernah Melepasku........

Kamis, 19 Februari 2009

R O K O K


Merokok dapat menyebabkan kanker,serangan jantung,impotensi dan gangguan kehamilan dan janin begitu bunyi tulisan yang tertera di setiap bungkus rokok,fatwa ulama mengharamkan rokok bagi anak dan wanita hamil,kurang apalagi larangan untuk tidak merokok.Nyatanya rokok tetap merupakan barang yang selalu ada dimanapun lingkungan kita berada mulai dirumah,di angkot,disekolah,di kantor,di mall-mall bahkan dirumah sakitpun ada karena dokterpun masih kelihatan dengan enaknya merokok.
Bahaya merokok dan isi kandungan racun dari sebatang rokok sering kita dengar tapi bagi perokok berat mereka tetap bersikap manaduli.Semboyan mereka lebih baik putus cinta dari pada putus rokok,merokok mati tidak merokokpun mati juga.Bahaya rokok bukan hanya bagi perokoknya sendiri dan para ahli kesehatan mengatakan bahwa asap rokok justru berbahaya bagi perokok pasif(orang yang tidak merokok tapi kecipratan asap rokok) dibanding dari perokok itu sendiri.
Makanya negara yang sangat mencintai warganya seperti Singapura melarang keras merokok di tempat-tempat umum, bahkan melakukan denda bila melakukan pelanggaran atas larangan tersebut.Larangan merokok bukan saja di tempat-tempat umum yang tertutup di tempat-tempat terbukapun pemerintah Singapura secara tegas menyatakan daerah bebas asap rokok.
Ruang lingkup perokok dipersempit, demi kesehatan penduduknya.Bagaimana ? di Indonesia yang mungkin karena jumlah penduduknya begitu banyak,kemudian penghasilan dari cukai rokok bagi pendapatan negara cukup besar,belum lagi dari sisi tenaga kerja yang sudah tergantung dengan industri rokok seperti petani tembakau,buruh-buruh pelinting rokok,maupun buruh dari pabrik-pabrik rokok seperti di Kudus dan Kediri.Memang benar,untuk urusan rokok di Indonesia merupakan buah simalakama. Disatu sisi merupakan sumber penghasilan disisi lain sumber bencana,suatu pilihan yang sulit atau dua-duanya biarkan berjalan seiringan.
Yang pasti akan terjadi adu kekuatan antara produsen dan masyarakat anti rokok melalui komnas perlindungan anak.
Produsen akan jor-joran mengiklan rokok produknya,toh biaya iklan ditanggung oleh perokok itu sendiri.Mengingat berdasarkan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh iklan terhadap dorongan remaja untuk merokok se usia 13-17 tahun mencapai 91,7 persen.Jadi, Selama ketegasan dari pemerintah belum ada maka selama itulah adu kekuatan akan terus berlangsung.
Belum lagi kebiasan buruk dari lingkungan terdekat seperti orang tua apabila menjadi perokok aktip.Anak-anak remaja mereka seperti terobsesi dengan kenikmatan dari merokok seperti makanan yang melezatkan saja.
Untungnya saja sebelum saya menjadi orang tua bagi anak –anak, kebiasaan tersebut sudah bisa saya hentikan disekitar tahun 90- an.Karena anak pertama saya lahir pada tahun 91.Cara menghentikan kebiasan merokok tersebutpun tidak begitu merepotkan dimulai dari hal yang sangat sepele saja.Pada saat itu saya sering melobby proyek dengan cara menemui Pimpro.Karena yang ingin menemui sang Pimpro begitu banyak, maka semuanya harus mengantri seperti pasien menunggu dokter.Sambil menunggu ,biasanya kita selalu menghabiskan waktu dengan merokok dan jeleknya lagi kalau tidak merokok kayaknya sulit untuk kita memulai suatu pembicaraan.Seolah olah tanpa merokok ,tidak ada rasa percaya diri,berpikirpun terasa begitu sulitnya semuanya harus ditemani rokok.Entah kenapa tiba-tiba dibenak timbul pemikiran,kalau saya tergantung terus-menerus dari rokok,akan menjadi apa?Sejak saat itu juga, sebungkus rokok Jarum super enambelas berikut korek apinya yang ada di saku baju, saya buang ke tong sampah,titik.
Namun biaya dari kebiasaan merokok tetap saya keluarkan. Hanya penggunaannya dialih fungsikan menjadi pembiayaan cicilan kaplingan tanah,dan yang terjadi sungguh di luar dugaan beberapa tahun kemudian kami mempunyai beberapa tanah kapling yang siap bangun termasuk siap jual kalau kepepet.
Ketimbang kalau masih merokok yang didapat hanya abu rokok dan simpanan penyakit di badan yang setiap saat bisa muncul akibat reaksi dari lamanya merokok.
Perjalan waktu merokok dari saya mulai kuliah sampai selesai dan kemudian kerja, saya tutup begitu saja tanpa bantuan perantara apapun baik permen maupun permen karet,langsung saja tidak ada keinginan lagi untuk merokok walaupun melihat kiri-kanan kepal-kepul merokok dengan nikmatnya.Sekarangpun dimobil tetap dilarang merokok bagi yang berada didalamnya,dirumah tidak ada anggota keluarga yang merokok,asbak rokok kami tak punya.Anak-anak juga tidak merokok walaupun kami tidak pernah mengeluarkan larangannya, cukup mencontohkan untuk tidak merokok.Itu bisa dideteksi dari bau mulutnya tidak bau tembakau,kecuali bau jengkol kalau habis makan jengkol rendang.
Biasanya perokok berat mulutnya bau asbak.Sungguh beruntung bagi para wanita yang mempunyai suami bukan perokok berat selain uang belanja tidak berkurang dan yang paling penting tidak pernah mencium asbak rokok.
Melawan diri sendiri memang serasa sulit tapi kalau ada kemauan pasti gampang apalagi kalau menghasilkan tanah kaplingan.
Pokoknya gampang dech..........!!!!!!

Minggu, 15 Februari 2009

JUAL DIRI



Menjual diri,satu kalimat pendek terdiri dua suku kata yang sering berkonotasi negatip.Kalimat yang sering diidentik dengan prostitusi ,padahal konteks dari menjual sangatlah luas. Jual diri ,erat kaitannya memasarkan kemampuan dari seseorang.Kemampuan seseorang apabila tidak bisa dieksplotasi keluar, maka kemampuan tersebut hanya sia-sia tak termanfaatkan.
Semua orang pada prinsipnya mempunyai kemampuan dan telah di berikan oleh Allah SWT sejak lahir ,tapi selama kemampuan tersebut tidak diketahui oleh orang lain apalagi oleh diri sendiri maka siapa yang bisa tahu?.
Hari-hari menjelang pemilu legislatif ,merupakan hari hari para caleg berjuang untuk memasarkan dirinya terhadap para konsumennya, dalam hal ini adalah rakyat yang telah mempunyai hak pilih.Berbagai macam cara mereka memasarkannya bisa dengan brosur,kartu nama ,iklan di radio,bisik-bisik tetangga bahkan melalui baliho yang bertebaran di persimpangan jalan.Semuanya dengan wajah penuh senyuman ....kan!, nggak mungkin memasang wajah preman,maksudnya muka perang. Bahkan begitu banyak Caleg pria tiba-tiba lebih suka terlihat memakai peci entah apa maksudnya? Hanya hati mereka yang tahu.Sementara caleg wanita menebarkan pesona dengan kecantikkannya,seolah-olah dengan kecantikkan semua persoalan rakyat bisa terselesaikan. Para caleg memang harus bisa tampil maksimal dan selama ini di perbolehkan juga tidak melanggar undang-undang.
Wajah kota berubah menjadi begitu meriah penuh baliho dan umbul-umbul serta bendera partai.
Menjadi pertanyaan?, apa itu effektif bisa meraih simpati dari pemilih.Apa mungkin? dengan telah menampangkan diri di Baliho serta-merta rakyat langsung memilihnya.Rakyat yang mana bisa diraih simpatinya dengan modal senyuman di baliho,sedemikian bodohkah masyarakat.
Bisa disodorkan tampang yang dibuat-buat langsung bisa dipilih,bagaimana kinerja dari masing-masing calon legislatif,bagaimana track recordnya, sejauh mana caleg bisa dipercaya untuk mengemban amanah, memperjuangkan aspirasi masyarakat,menyampaikannya dalam tiap sidang,kemampuan mengkomunikasinya,prioritas apa yang perlu segera diwujudkan ,bagaimana caranya mencarikan solusinya,kemudian merealisasikan dari keinginan masyarakat pemilihnya.Seribu pertanyaan menggelanyut di benak pemilih,dan belum ada terdengar dari satu calegpun mengungkapkan dihadapan publik.Kecuali janji-janji setinggi langit tanpa mengungkapkan cara merealisasikannya yang realistis.
Apa mereka sudah mendengarkan denyut nadi dari keinginan masyarakat,cukupkah waktu kurang lebih 3 bulan untuk mendengarkan denyut nadi itu.Sepertinya semua serba instan,jangan-jangan akan melahirkan wakil rakyat yang instan pula dan mudah-mudahan saja tidak seperti itu.
Menjadi wakil rakyat memang hak semua warga negara,tapi tanpa melalui suatu proses yang matang dan terencana. Sepertinya sekedar menjalani ritual 5 tahunan yang dari pemilu ke pemilu tanpa adanya perubahan mendasar.Hanya sebagai Formalitas dari suatu syarat adanya demokrasi saja. Tidak menyentuh hal yang paling urgensi dari demokrasi itu sendiri,mensejahterakan rakyat.
Memang kita semua masih dalam tahap belajar ....belajar memilih,dan belajar agar bisa untuk dipilih.
Belajar demokrasi yang telah terbelenggu selama 30 tahun.
Dan kita harus berani memulai.......
Seperti panton MAT JELANGOR di Baliho-Balihonya,
Nasi udok,Nasi kebuli, Dah dudok,Tadak peduli.
Tudong saji,Jatoh di rumpot, Banyak janji,banyak ngerampot.
Ikan belidak,dibikin kerupok Bukti tadak,Janji betumpok.
Jangan dipileh....!!!!!!!